Perjalanan Memperbaharui Kualitas Diri

Beberapa hari sebelum memasuki bulan Ramadhan, tepatnya pada hari Jum’at tanggal 3 Juni 2016, Saya diajak oleh paman untuk mengunjungi Provinsi Sumatera Selatan tapatnya di kecamatan Babat Toman Kambupaten Musi Banyu Asin (MUBA). Dalam rangka apa? Yakni dalam rangka silaturahim kerumah saudara menjalang untuk memasuki bulan suci Ramadhan ini. Awalnya Saya keberatan untuk ikut serta, karena itu artinya Saya harus ambil libur kerja beberapa hari. Tapi setelah dipikir-pikir, kapan lagi bisa bersilaturahmi kalau bukan sekarang.

Dibawah ini beberapa foto yang Saya ambil ketika sedang berjalan dipinggir sungai Musi yang Saya rindukan.

perjalanan---Sungai-Musi

Tahun 2014 lalu, Saya memang pernah berdomisili di desa ini. Maklumlah, namanya juga orang minang, merantau adalah tradisi kami. Perjalanan silaturahmi ini membuat Saya sadar betapa beratnya tanggung jawab yang Saya emban sebagai anak tertua dalam keluarga dan juga termasuk dalam kategori cucu tertua dari keluarga super besar.

Kaluarga super besar ini meliputi nenek besarta anak-anaknya atau paman dan bibi Saya.
Nenek Saya punya anak sebanyak 10 orang, termasuk ibu Saya sendiri. Dan setiap anak sudah menikah serta memiliki keturunan yang banyak yang bila ditotalkan berjumlah 49 atau 50 orang cucu termasuk Saya. Dari sekian banyak itu, Saya urutan ketiga tertua, itu artinya ada banyak adik-adik dibawah Saya baik itu adik kandung maupun adik sepupu.

Perjalanan silaturahmi ini membuat Saya kembali tersadar bahwasanya sebagai anak tertua Saya dituntut untuk bisa menjadi pemimpin dan bisa mengkoordinasi adik-adik Saya. Beberapa poin yang bisa Saya simpulkan setelah kembali menyadari bahwa Saya adalah anak tertua yakni:

  • Saya dituntut untuk bisa memberikan contoh yang baik kepada adik-adik.
  • Saya dituntut untuk bisa menjadi tempat berlindung untuk adik-adik Saya.
  • Saya harus sukses dalam bekerja dan bisa mengumpulkan materi sebanyak – banyak, agar bisa membantu adik-adik dalam hal biaya sekolah mereka atau biaya lainnya.
  • Saya harus bisa menjadi pribadi yang berkualitas agar bisa memberikan masukan kepada adik-adik dalam segala bidang.
  • dan masih banyak lagi yang harus Saya penuhi sebagai seorang anak tertua.

Tidak banyak foto yang bisa Saya abadikan dalam perjalanan ini, karena selama perjalanan Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam diri dan merenung sambil mempersiapkan rencana yang lebih baik lagi untuk masa depan.

Tapi ada bagian terbaik dalam perjalanan ini adalah ketika Saya sedang berkumpul dengan 4 cucu tertua dalam keluarga super besar ini yakni cucu pertama, cucu ketiga yakni Saya dan cucu keempat. Kami berdiskusi membahas tentang profil kami masing-masing dan kami saling memberikan masukan dan nasehat, terutama masukan dari cucu pertama yang memang dia sudah banyak pengalaman dalam bekerja dan banyak pula resiko yang ia alami.

Saya berharap kami semua bisa akur tanpa ada perpecahan dan kesalahpahaman diantara kami semua. Masalah pasti ada, mengingat usia dan tanggungjawab yang kami embang masing-masing, dan Saya berharap itu tidak menjadikan alasan untuk saling menyalahkan. Justru kita harus bisa saling mengingatkan dan saling tolong menolong dengan tulus.
Perjalanan ini sangat berarti untuk Saya. Diluar keluarga besar, masih banyak adik-adik yang harus Saya koordinasi dan Saya bimbing.

Happy Blogging…