Akhirnya Sampai dipuncak Kegalauan

Baru mau nulis aja udah bingung cara memulainya dari mana. Hmm… Mungkin karena udah jarang nulis aja kali yaa, jadi sekalinya mau nulis langsung gugup gitu.. Kayak ketemu gebetan hehe.. Asli bingung banget mau memulai dari mana topik kali ini.

puncak-kegalauan*tarik nafas… *hembuskan perlahan..
Oke, kali ini Saya ingin nulis sesuatu seperti biasa.. Iya, nulis yang paling enjoy adalah menuangkan uneg-uneg yang ada didalam pikiran sehingga menjadikan pundak ini terasa berat, lalu mengalirkannya melalui kedua lengan menuju siku hingga akhirkan tiba di ujung jari dan membiarkannya mengetik dengan bebas diatas keyboard yang usang ini.
Hal yang selama ini Saya takut-takuti didalam hidup Saya pada masa lampau adalah kegalauan diusia yang sudah tidak remaja lagi. Yups.. kegalauan itu kini akhirnya Saya alami, padahal Saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk menghindarinya. Semua pilihan dalam hidup memiliki resiko dan Saya mengambil resiko yang besar, dan pada akhirnya Saya jatuh kedalam lubang kegalauan. Saya gak nyangka aja ternyata lubangnya sangat dalam dan gelap.

Diusia yang masuk kedalam area Siaga 1, yang mana diarea ini ada pertanyaan-pertanyaan yang letaknya di tempat yang tidak terduga, ibarat ranjau yang tertanam dibawah tanah. Kita harus hati-hati dalam melangkah, jika terpijak maka terjadilah ledakan. Ledakan itu bunyinya gini “Kapan Nikah?
*xixixi perumpamaannya absrut banget

Yaaa . . . Sekarang Saya sedang berada diarea sensitif, bahkan sangat sensitif. Ditambah lagi rasa galau yang dengan status pengangguran yang Saya kantongi ini. Udah berasa gak sih galaunya gimana?
Untungnya Saya cowok ya, jadi pertanyaan tersebut gak terlalu nusuk. Hanya saja Saya gak mungkin terus-terusan bersembunyi dibalik kalimat “Cowok mah tuaan dikit gak masalah“.
Diusia yang bukan remaja lagi dan belum terlalu tua, Saya harus benar-benar mempersiapkan dengan sebaik mungkin sebelum masuk ke usia “sedikit tua” apalagi masuk ke usia “terlalu tua”.

Pertanyaan “Kapan Nikah?” ini bisa datang dari siapa saja seperti teman, saudara, sahabat, tetangga, teman tetangga, sodaranya teman tetangga, kenalan dari sodaranya teman tetangga, bahkan kucing yang lagi manja-manjanya minta di elus aja bisa bikin baper.. *akut banget yak
Dan juga bisa datang dari mana saja seperti dirumah, disebelah rumah, diantara rumah bedeng, bahkan dibawah batu gilingan cabe juga ada.. Gila parah banget…

Satu-satunya tameng Saya ketika menghadapi pertanyaan tersebut adalah dengan menjawab “Cowok mah tuaan dikit gak masalah”.
Itu adalah titik aman yang bisa Saya dapati untuk sementara waktu, dan berasa aman banget dengan jawaban itu.
Eh ternyata muncul kalimat-kalimat susulan dan ini sering banget Saya dapati dari mereka yang sepertinya berusah membuat Saya tertekan. Saking seringnya, nih Saya buatin list kalimat-kalimat susulan setelah muncul pertanyaan “Kapan Nikah?:

  • Jangan lama-lama, ntar gak laku
  • Jangan nunggu sukses dulu, ntar gak nikah-nikah
  • Yang enak itu suami istri sama-sama berjuang, jadi susah bareng-bareng dan meraih sukses bersama
  • Gak laku ya

Itu beberapa list yang sering Saya dapati, mungin teman-teman bisa menambahkannya…

Kalau masalah laku atau tidak itu urusan apakah Allah mempermudah urusan kita atau tidak. Kalau ingin dipermudah ya tinggal dekatin aja Allah, ntar juga semua urusan dibikin mudah.

Intinya bagi Saya adalah, sekarang ini Saya mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum memutuskan untuk menikah. Karena bagi Saya menikah adalah sebuah pintu yang membawa kita kedalam sebuah dunia yang mengharuskan kita untuk menjadi pribadi dewasa. Dewasa dalam artian yang sebenarnya dewasa, bukan hanya usia saja yang bertambah, tapi kepribadian juga bukan lagi seperti anak-anak. Kalau sudah masuk kedalam pintu pernikahan, bagi Saya gak ada pilihan untuk keluar dari dunia itu. Kenyataannya banyak orang yang keluar setelah masuk kedalam pintu itu. Mereka lupa bahwa mereka telah masuk alam yang “Dilarang Kekanak-kanakan”.

Hahaha kok jadi serius gini sih, padahal tadinya pengen dibahas santai gitu.. Tapi emang sih, entah mengapa kalau sudah bahas topik ini, Saya bawaannya serius gitu…

Kayaknya sampai disini aja pembahasannya, Saya takut kalau diterusin uneg-uneg ini memang tersalurkan tapi hati jadi ambah galau. Ngeblog itu kan happy ending 🙂

Nenek kapan? @hotisamitis wkwk

A post shared by Rahman Batopie (@batopie) on

Happy Blogging…

Iklan