Bersyukur didalam Diam

bersyukur dalam diam01

“Assalamu’alaikum…” Seorang pria dengan kemeja lusuhnya masuk kedalam kantor tempatku bekerja

“Wa’alikumsalam”

“Permisi, Saya mau menawarkan puding buatan istri Saya” Sambungnya sambil berjalan menuju meja kerjaku sambil memegang dua kotak mika (kotak kua dari plastik) ditangan kanan dan tas plastik besar ditangan kiri.

“Ada dua rasa, vanilla dan pandan. Isinya puding dengan roti tawar yang disuir-suir ditengahnya.” Dia terus berbicara sambil meletakkan dua kotak mika berisi puding tersebut diatas meja Saya.

“Gak dulu deh pak.” Jawab Saya

“Dicoba aja dulu, lumayan buat cemilan, puding ini bisa tahan sampe sore kok.” Balasnya

Untuk terakhir kalinya Saya menjawab, “Gak dulu ya pak…” Sambil tersenyum manis ala Rahmanbatopie 🙂

“Ya udah, maaf ya sudah mengganggu”. Dia mengambil puding dari atas meja sambil melangkah keluar dengan perlahan.

Entah mengapa Saya merasa telah melakukan perbuatan yang “Hina”.
Dengan cepat Saya memanggil bapak itu yang setengah badannya telah keluar dari pintu namun tangan kanannya masih memegang puntu kaca itu.

“Eh.. Pak, Saya beli Satu yang rasa vanilla”

Dengan cepat dia masuk kedalam kembali sambil berkata “Ikhlas lho yaa”

“Iya pak…” dengan senyum manis itu lagi, hanya saja ini lebih manis..

bersyukur dalam diam02

Ketika dia keluar setelah penolakan yang Saya berikan membuat seolah-olah waktu berjalan sangat pelan dan terjadi dialog didalam hati ini yang berkata:
“Rahman, apa yang telah kau lakukan? ada seorang bapak-bapak yang menawarkan makanan buatan istrinya untukmu. Mengapa kamu tolak? Lihat dirimu dan lihat apa yang telah Allah berikan padamu. Kamu bisa duduk didepan komputer seperti yang kau harapkan sekarang ini, kamu tidak punya hak untuk memberikan pemberikan penolakan dan menghujamkan kekecewaan dihatinya.

Saya tau sakitnya ditolak atas niat baik yang Saya tawarkan kepada orang lain, untuk itu Saya tidak ingin orang lain merasakannya dariku.

Happy blogging

Iklan