Drama Transit Penerbangan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Setelah panggilan boarding, kami satu persatu antri di pintu masuk menuju pesawat melalui Garbarata. Aku selaku tour leader, memposisikan diriku di bagian belakang rombongan. Tugas ku adalah memastikan tidak ada anggota rombongan yang tertinggal, memeriksa kembali ruang tunggu hingga toilet bandara. Setelah ku pastikan aman, aku menyusul dibelakang rombongan.

Karna jamaah umrah ini rata2 usianya 50 tahun keatas, tentu langkah mereka pun tidak bisa panjang. Naah disinilah tugas ku untuk menemani dan membimbing mereka di barisan belakang. Sedangkan bang khilal, bliau berada di barisan depan, membantu jamaah dalam memasukkan tas ke kabin dan membantu mencarikan seat jamaah.

Setelah semua jamaah masuk ke pesawat, dan menduduki seat sesuai dengan tiket nya, kami pun menunggu hingga seluruh penumpang pesawat lain nya. Terakhir, 3 orang jamaah yang menggunakan kursi roda pun masuk pesawat, dibimbing oleh crew bandara.

Tugas ku selanjutnya adalah memastikan kembali jumlah anggota rombongan. Jgn sampai ad yg tertinggal.

Siip.. Pesawat pun take off dengan mulus, dan landing pun Alhamdulillah dengan selamat.

Setelah tiba di Jakarta, kami pun segera keluar dari pesawat menuju ruang tunggu untuk bertemu dengan tim dari Jakarta untuk penyerahan paspor dan tiket pesawat dari Jakarta ke Saudi. Disana kami juga bertemu dengan 4 orang jamaah lagi yang asal mereka dari Palembang, dan bertemu di Jakarta untuk bergabung dalam rombongan.

Drama pun dimulai.. Setelah masing-masing dari kami memegang paspor dan tiket, segera kami menuju Imigrasi di bandara. Disini aku tidak punya foto dokumentasi nya, karena ketika ingan ambil gambar dengan hape, petugas imigrasi menegur ku.

Memastikan semua jamaah sudah melakukan proses pemeriksaan paspor di bagian imigrasi, kami pun buru-buru menuju ruang tunggu di Gate 13. Karena jadwal keberangkatan ke Jeddah sudah dekat. Lokasinya sangat jauh sekali, apa lagi rombongan kami usianya sudah lanjut. Saya pun perlahan membimbing jamaah di barisan paling belakang.

Setibanya di ruang tunggu, bukan panggilan boarding yang kami dengar, melainkan jadwal keberamgkatan yang tertunda dua jam. Seharusnya berangkat jam 10.00 WIB, mundur menjadi jam 12.00 WIB.

Waktu pun terus berlalu, jamaah semakin lelah menunggu. Ada yang mondar-mandir gak jelas, tidur di kursi, bolak-balik toilet, hingga memasak nasi.. Hehe gak doong 😅

Panggilan bording pun berbunyi, aku pun segera memanggil jamaah untuk segera berkumpul di depan pintu masuk menuju pesawat. Seperti biasa, tugas ku adalah memastikan seluruh anggota rombongan telah berbaris di pintu masuk. Aku hitung jumlah jamaah nya, Aku periksa di kursi ruang tunggu, di toilet, di kantin hingga di ruang lobby.. Kali aja mereka ngobrol dengan petugan 😁

Siip, semua nya aman, kami pun masuk berbaris melalui trowongan garbarata, dan seperti biasa, aku di barisan paling belakang dan bang khilal di depan. Setelah semuanya duduk di kursi yang sesuai dengan tiket nya, aku dan bang khilal pun berjalan mengunjungi jamaah satu per satu di seat mereka masing-masing. Mengingatkan kepada mereka, bahwa waktu shalat dzuhur sudah masuk. Yuk kita terapkan cara tayamum di dalam pesawat. Aku pun mempraktikkan cara tayamum kepada jamaah ku, dan mereka pun satu per satu mulai melaksanakan Shalat Dzuhur.

Alhamdulillah, setelag shalat dzuhur di lakukan, kami pun menunggu pesawat ini akan take off. Lamaaa sekali, karena penumpang pesawat ini sangat banyak, jadi harap maklum saja.

Eh bukan rombongan kakak2 pramugari peraga yang muncul, malah pemberitahuan bahwa pesawat ini sedang dalam masalah teknis, seluruh penumpang di mohon untuk keluar dari pesawat.

Waaah kacau nih… 😅😅😅 mana jamaah udah kelelahan lagi.. Alhasil semua keluar dan menunggu di ruang tunggu kembali.

Saat menunggu di ruang tunggu, aku melihat jam menunjukkan pukul 13.05 WIB. Aku pun berdiskusi kepada bang khilal tentang konsumsi jamaah untuk makan siang. Kami pun menghubungi pihak lobby bandara terkain hal ini. Apakah pihak bandara memfasilitasi makan siang ini. Ternyata mereka pun juga bingung, dan menghubungi pihak terkait lain nya.

Lalu bang Khilal berinisiatif untuk membeli roti dan makanan ringan untuk mengganjal perut jamaah. Pergilah aku ke toko-toko di bandara untuk membeli sejumlah makanan ringan. Tau sendiri kan harganya mehong-mehong 😅

Aku pun membagikan makanan dan minuman ringan kepada seluruh jamaah di ruang tunggu. Alhamdulillah perut pun terisi sedikit makanan ringan.

Tidak lama setelah itu, panggilan boarding pun datang. Dengan mengganti pesawat yang lain, kami pun memasuki pesawat sesuai dengan seat yg sudah di tentukan pada tiket masing-masing. Seperti biasa, tugas ku di baris paling belakang adalah… Udah lah, capek ngetik nya 😅😅

Setelah kami duduk di seat yg telah dintentukan, akupun kembali menghitung jumlah rombongan jamaah umroh.. Lalu memberikan isyarat kepada bang Khilal bahwa jumlah anggota sudah berada di posisinya masing-masing.

Alhamdulillah… Pihak maskapai memberikan kompensasi atas keterlambatan yang mereka alami. Seluruh penumpang diberi makan siang gratis… 😊 sebenernya kalo gak karna ganti pesawat pun pasti dikasi makan siang nya hihihi 😁

Alhamdulillah.. Pesawat pun take off dengan mulus, dan kami pun beristirahat. 🤩

Perjalanan dari Jakarta ke Jeddah memakan waktu 9 jam, dan pihak maskapai memberikan makan sebanyak 3 kali. Seperti inilah penampakan catering makanan di dalam pesawat.

Sampe disini lah cerita drama transit di bandara Jakarta.. Besok kita sambung lagi cerita perjalanan ibadah umrah nya 😊

Happy Blogging

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…